Seharusnya kita
menyadari bahwa kita tidak akan menjadi manusia yang sempurna, menjadi manusia
tanpa dosa, menjadi manusia tanpa cela, menjadi manusia tanpa kekurangan dan
menjadi manusia yang tidak membutuhkan orang lain.
Jika kita telah
menyadarinya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Lalu, apakah kita juga akan
menuntut seseorang untuk menjadi sempurna? Tentu tidak bukan? Dan itulah yang
seharusnya yang kita lakukan.
Tidak ada salahnya jika
kita melakukan yang terbaik setiap kali kita menghadapi sebuah masalah. Memang
kesempurnaan bertujuan untuk menempatkan kita di jalan yang lebih baik. Namun,
ada sisi buruk dari kesempurnaan yang perlu kita perhatikan.
kesempurnaan berarti
senantiasa melakukan upaya perbaikan terus menerus di segala bidang untuk
menjadi dan memberikan pelayanan yang terbaik. Perilaku utama kesempurnaan
adalah:
a. Melakukan perbaikan
terus menerus
b. Mengembangkan
inovasi dan kreativitas
Orang bijak mengatakan,
orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun,
orang yang baik adalah orang yang mau belajar dari kesalahan untuk kemudian
memperbaikinya. Demikian pula sebuah organisasi. Untuk meraih prestasi terbaik,
ia perlu melakukan evaluasi dan perbaikan terus menerus sehingga pada akhirnya
dapat menghasilkan prestasi yang sempurna. Untuk mencapai kualitas maksimal, ia
bahkan perlu menantang dirinya untuk terus berkembang. Pada saat itulah akan
muncul berbagai kreativitas dan inovasi.
Untuk masalah perbaikan
dan pengembangan, negara Jepang patut menjadi contoh. Negara ini telah beberapa
kali mengalami musibah besar. Ada serangan bom atom di dua kota besar Hiroshima
dan Nagasaki, ada pula serangan tsunami disertai ancaman radiasi nuklir dari
reaktor yang rusak. Semua dapat memporak porandakan berbagai sendi kehidupan.
Namun, rakyat Jepang tidak pernah menyerah. Mereka selalu mampu bangkit dan
memperbaiki kondisinya. Bahkan, hingga saat ini mereka mampu membuktikan bahwa
negaranya tetap berada di posisi depan dalam hal kesejahteraan ekonomi dan
kemajuan teknologi.
Ini barangkali
merupakan manifestasi dari falsafah Kaizen yang dianut di Jepang. Di Jepang
dikenal istilah Kaizen yang berarti fokus pada usaha meningkatkan kualitas
produk dan jasa secara terus menerus. Kaizen dapat diartikan sebagai “perbaikan
yang berkesinambungan.” Dalam falsafah Kaizen, tidak dikenal rasa puas yang
instan dan tidak ada istilah titik puncak dimana sebuah hasil dianggap telah
maksimal. Dengan kata lain, harus ada usaha untuk selalu melakukan peningkatan.
Pada penerapannya dalam perusahaan, kaizen mencakup pengertian perbaikan
berkesinambungan yang melibatkan seluruh pekerjanya, dari manajemen tingkat
atas sampai manajemen tingkat bawah.
Salah satu masalah dari
kesempurnaan adalah ketika kita mencari hal sederhana lalu kita ingin hal
sederhana itu menjadi sebuah obsesi.
George Fisher
mengatakan, "Ketika kamu mengejar kesempurnaan, kamu akan mengejar target
yang bergerak." Ketika kita mencoba meraih kesempurnaan yang kita dapat
hanyalah pekerjaan yang menguras banyak waktu jika tujuannya untuk memperoleh
hal yang terbaik bagi kepentingan seorang individu. Masalah dengan obsesi
adalah bahwa mereka akan fokus pada satu tujuan dan meninggalkan hal-hal
penting lainnya, yang menyebabkan tidak seimbang dan terkadang membuat hidup
tidak stabil.
Kesempurnaan juga salah
satu penyebab sifat menunda-nunda. Salah satu sebab penundaan yang cukup sering
adalah ingin perfeksionis yaitu keinginan untuk melakukan segala sesuatu
setelah semuanya sempurna yang akhirnya membuat kita menunda melakukan
rencana-rencana kita untuk menunggu ‘waktu yang tepat’. Ingatlah bahwa tidak
ada yang sempurna karena segala sesuatu pasti bisa dibuat lebih baik.
Kesempurnaan adalah resep utama untuk stres!! Berikan ijin pada diri Anda untuk
mentoleransi beberapa kesalahan dan jadilah manusia normal. Ketika kita
dituntut menjadi sempurna, kesalahan pun tidak dapat ditoleransi. Cara terbaik
untuk menghindari kesalahan adalah dengan menunda melakukan sesuatu.
Akhirnya,
perfeksionisme dapat menyebabkan malapetaka dalam sebuah hubungan. Ketika kita
mencari kesempurnaan, kita tidak hanya membebani diri dengan hal itu, tapi kita
sering memproyeksikan perfeksionisme kita ke orang lain. Kita mulai berharap
terlalu banyak dan menjadi tidak toleran terhadap kesalahan orang yang kita
cintai atau apapun kelemahan yang dia tampilkan. Kita berhenti menerima siapa
dia dan mulai menuntut dia menjadi sempurna seperti yang kita bayangkan. Tentu
saja, apa yang kita bayangkan adalah sebuah hubungan yang lebih baik dan dapat
menempatkan beban yang kuat pada setiap hubungan.
Jika kita mencari
pasangan hidup yang sempurna, tentu tidaklah akan dapat menemukannya. Jika kita
mencari pekerjaan yang sempurna, tentu tidaklah akan kita menjumpainya. Jika
kita mencari sebuah jawaban yang sempurna, tentu tidaklah kita akan
mendapatkannya.
Maka dari itu, menuntut
kesempurnaan terhadap suatu hal, itu adalah hal yang tak mungkin. Paling tidak
kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendekatkan diri pada kesempurnaan, atau
paling tidak berusaha menjauhkan diri dari segala kemungkinan buruk.
Jika kita termasuk tipe
yang suka menuntut, maka sebelum kita menuntut hal-hal yang mendekati
kesempurnaan, maka tuntutlah diri sendiri terlebih dahulu untuk
mengusahakannya. Jangan sampai hanya menuntut kesempurnaan dari pihak lain
(misalnya kepada pasangan, pemberi kerja ataupun lainnya) sementara kita
sendiri hanya menonton dan menunggu kesempurnaan itu datang pada dirinya.
Ingatlah bahwa tidak
ada kesempurnaan bagi kita dan orang lain, kecuali hal-hal yang memang bisa
mendekatkan diri pada kesempurnaan dan tidaklah akan terwujud usaha untuk
mendekatkan diri pada kesempurnaan jika kita hanya diam dan berpangku tangan.
Apakah anda salah satu
orang yang menuntut kesempurnaan?
Sumber :
http://artikelterapiotak.blogspot.com/2015/03/ketika-kita-menuntut-kesempurnaan.html?m=1

0 komentar:
Posting Komentar