Rabu, 29 Juli 2015

on 1 comment

MENJADI SEORANG PROFESIONALISME

profesionalisme berarti bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi. Untuk mewujudkannya, ada 2 perilaku utama yang harus dimiliki, yaitu:
a. Mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas
b. Bekerja dengan hati

Profesionalisme merupakan suatu proses yang tidak dapat di tahan-tahan dalam perkembangan dunia perusahaan modern dewasa ini. PARSONS tidak tahu arah lanjut proses profesionalisasi itu nantinya, tapi menurutnya, bahwa keseluruhan kompleks profesionalisme itu tidak hanya tampil kedepan sebagai sesuatu yang terkemuka, melainkan juga sudah mulai mendominasi situasi sekarang.

Ada empat perspektif dalam mengukur profesionalisme menurut gilley dan enggland :


1.      pendekatan berorientasi filosofis
pendekatan lambang profesional, pendekatan sikap Individu dan electic.

2.      pendekatan perkembangan bertahap
individu(dengan minat bersama)berkumpul, kemudian mengidentifikasian dan mengadopsi ilmu, untuk membentuk organisasi profesi, dan membuat kesepakatan persyaratan profesi, serta menentukan kode etik untuk merevisi persyaratan.

3.      pendekatan berorientasi karakteristik
etika sebagai aturan langkah- langkah, pengetahuan yang terorganisasi, keahlian dan kopentensi khusus, tinggkat pendidikan minimal, setifikasi keahlian.

4.      pendekatan berorientasi non- tradisional
mampu melihat dan merumuskan karakteristik unik dan kebutuhan sebuah profesi.

Setiap pekerjaan mensyaratkan pelakunya untuk memiliki keahlian dan ketramplilan tertentu yang disebut dengan spesialisasi. Seorang profesional dituntut menguasai keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh spesialisasinya. Untuk itu diperlukan kesediaan meng-upgrade diri dengan belajar terus menerus agar mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungan kerja yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu. Tidak ada kata cukup, berhenti, apalagi menyerah dalam pengembangan diri. Merasa sudah cukup hebat dan berpengalaman berarti merelakan diri untuk dicap sebagai “pengenang masa lalu”. Berhenti belajar berarti merelakan dirinya menjadi, maaf, bodoh. Merasa tidak mampu lalu menyerah berarti merelakan diri untuk ditinggalkan. Maka, seorang profesional akan terus mencari cara untuk menjadi yang terbaik.

Profesionalisme memerlukan apa yang disebut para ahli sebagai hard competency dan soft competency. Hard competency mengacu pada keahlian dan ketrampilan, yakni yang berhubungan dengan kemampuan teknis dan fungsional suatu pekerjaan. Sedangkan soft competency mengacu pada sikap dan perilaku ketika bekerja.

Adapun syarat profesionalisme yaitu :
a. dasar ilmu yang dimiliki kuat dalam bidangnya
b. penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praktis
c. pengembangn kemampuan profesional yang berkesinambungan

Dikatakan bahwa selain bertanggung jawab secara teknis, seorang profesional juga perlu mengerti tentang etiket. Etiket mengacu pada norma sopan santun dan tata krama yang biasanya berpedoman pada adat istiadat. Dengan berbekal keahlian teknis dan pemahaman tentang etiket, seorang profesional akan menghasilkan produk yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Ia tidak akan menjadi orang pintar yang suka membodohi, membohongi dan menipu orang lain ataupun pejabat yang menghambat; namun, ia adalah orang pintar yang rendah hati, orang rajin yang ikhlas, dan pekerja keras yang peduli dan senang membantu.


sumber :


1 komentar: